Partisipasi-partisipasi dalam acara

Seminar dengan tema “Peran Pemerintah dan Pesantren dalam Penanggulangan Ekstremisme/Terorisme”

diselenggarakan oleh Center for the Study of Religion and Cultural (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Aliansi Pesantren for Peace dan didukung oleh Konrad-Adenauer-Stiftung e.V pada hari Jumat, 25 Mei 2018.

Seminar ini diselenggarakan untuk menanggapi aksi terror yang terjadi secara berturut-turut pada bulan Mei 2018 dimulai dengan bentrok di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat yang menewaskan 5 polisi dan 1 teroris; kemudian aksi bom bunuh diri di 3 Gereja di Surabaya, Jawa Timur yang menewaskan 17 orang termasuk 2 orang anggota kepolisian.

Kejadian-kejadian ini memperlihatkan bahwa jaringan terorisme terus memperluas jangkauannnya, memperbaiki cara dan metodenya, serta memperbanyak pengikutnya. Hasil penelitian CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017 menunjukkan bahwa benih-benih radikadilisme dan ektremisme terus tumbuh dan berkembang di lembaga pendidikan baik dikalangan anak muda pelajar SMA dan mahasiswa perguruan tinggi. Bahkan, tempat-tempat ibadah seperti masjid dan mushalla menjadi bagian dari pembibitan jiwa-jiwa teroris. Seminar ini diadakan untuk mendiskusikan latar belakang terjadinya tindakan ekstremis, solusi pencegahan aksi terorisme, serta menguatkan kapasitas institusi Pondok Pesantren di Indonesia dalam menyebarkan perdamaian dan toleransi keagamaan melalui pencegahan terhadap wacana kekerasan ekstremisme.

Prof. Dr. Azyumardi Azra (Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta / Cendekiawan Muslim Indonesia) mengemukakan pentingnya para guru, dosen serta PNS mendapatkan pendidikan kilat terkait pemahaman kebangsaan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk menangkal tersebarnya paham radikalisme di universitas, sekolah dan kementrian2. Wacana Islam Indonesia yang Wassatiah, yang inkusif, toleran dan penuh kedamaian perlu terus digelorakan.

Pencegahan terhadap tersebarnya paham radikalisme pun terus dilakukan oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) sejak Bom Bali 2002. Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME mengakui bahwa lembaga pendidikan dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi menjadi tempat yang rawan diincar oleh penyebar paham terorisme. Karenanya ia mendukung peran pesantren sebagai salah satu institusi pendidikan terbesar di Indonesia untuk terus menyebarkan Islam yang penuh perdamaian dan toleran, serta secara aktif melakukan kontra narasi ekstremis. Koordinator Aliansi Pesantren for Peace, KH. Jazilus Sakhok, Ph.D., optimis bahwa tata nilai dan mental tawassuth, tawazun, dan i’tidal dalam tradisi pesantren bisa menjadi modal sosial yang luar biasa dalam mencegah ekstremisme. Pesantren bisa menjadi dijadikan benteng tata nilai kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan yang seimbang, agar tetap menjadi rujukan nilai ketika terjadi tindakan ekstremisme/terorisme.

Seminar ini dihadiri lebih dari 80 peserta, perwakilan dari pesantren, dai masjid, lembaga pendidikan Islam, aktifis perdamaian, lembaga pemerintah (Kemenag/kemendikbud/kemenristekdikti) dan media.

Tentang seri ini

Konrad-Adenauer-Stiftung dengan karya-karya dan pusat-pusat pendidikannya serta kantor-kantornya di luar negeri menyelenggarakan setiap tahun beribu-ribu buah acara tentang topik yang beraneka-ragam. Di dalam situs www.kas.de, kami memberitakan secara aktuil dan eksklusif bagi Anda tentang kongres, peristiwa, dan simposium dll. yang terpilih. Di samping ringkasan isi, Anda di situ memperoleh juga bahan tambahan seperti gambar, naskah ceramah, serta rekaman video dan audio.

Informasi pemesanan

erscheinungsort

Indonesien Indonesien