Rincian
Komunikasi krisis penyelenggara negara merupakan salah satu pilar utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Dalam ekosistem informasi yang semakin dinamis, isu yang muncul di ruang publik, baik yang bersumber dari dinamika internal maupun tekanan eksternal seperti pemberitaan media, komentar di media sosial, dan perubahan regulasi berpotensi memengaruhi citra, kepercayaan, serta legitimasi institusi penyelenggara negara. Jika tidak dikelola dengan baik, isu yang tampak kecil pun dapat berkembang melewati siklus hidupnya dari tahap potensi, muncul, hingga mencapai puncak krisis yang sulit dikendalikan.
Krisis dapat hadir dalam berbagai wajah, seperti bencana alam, situasi sosial politik yang tidak stabil, seperti gelombang demonstrasi, kekerasan komunal, atau ketegangan pasca pemilu. Situasi yang dapat menciptakan tekanan komunikasi yang tidak kalah berat. Begitu pula krisis yang tumbuh perlahan di dalam institusi penyelenggara negara seperti kebocoran data, skandal kebijakan, atau keluhan publik yang terasa diabaikan. Situasi semacam itu pada akhirnya dapat meledak dan menjadi krisis reputasi atau kepercayaan publik yang sulit dikembalikan. Dalam semua situasi tersebut, cara penyelenggara negara berkomunikasi menentukan apakah krisis dapat dikelola atau justru semakin dalam.
Tantangan krisis komunikasi penyelenggara negara semakin berat di era digital. Transformasi digital nasional telah mengubah cara komunikasi publik secara signifikan. Informasi kini menyebar dengan sangat cepat, isu publik semakin kompleks, dan masyarakat memiliki harapan yang tinggi terhadap transparansi serta akuntabilitas pemerintah. Dalam kondisi ini, setiap kebijakan dan dinamika internal institusi dapat dengan mudah menjadi sorotan publik. Lebih jauh, para penyelenggara negara kini menghadapi ancaman hoaks dan disinformasi yang menyesatkan publik dan menurunkan kredibilitas, serangan siber dan kebocoran data yang merusak kepercayaan, serta ledakan opini negatif di media sosial. Kegagalan merespon momentum yang tepat tidak hanya dapat memperparah krisis, tetapi juga membuka ruang bagi narasi alternatif yang jauh lebih sulit diluruskan.
Pada dasarnya, komunikasi krisis penyelenggara negara bukan sekedar urusan manajemen reputasi, namun juga bagian dari komitmen negara terhadap transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi kepada masyarakat. Komunikasi yang empatik, terbuka, dan berbasiskan pada fakta dapat memperkuat legitimasi kebijakan dan memelihara partisipasi publik di tengah situasi paling sulit sekalipun. Bagi Indonesia, negara demokrasi yang secara geografis rentan dengan bencana alam sekaligus di tengah melemahnya kepercayaan publik terhadap beberapa instansi penyelenggara negara, kemampuan komunikasi krisis penyelenggara negara menjadi salah satu hal penting dan indikator nyata bagi kesehatan demokrasi.
Oleh karena itu, The Habibie Center didukung oleh Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Indonesia menyelenggarakan Dialog Demokrasi sebagai ruang refleksi dan pertukaran gagasan lintas pemangku kepentingan. Dialog ini ditujukan untuk mendiskusikan bagaimana komunikasi krisis pemerintah dapat dibangun lebih tangguh, tidak hanya efektif dalam mengelola situasi darurat, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik dan ketahanan demokrasi dalam jangka panjang.
Program
Selasa, 26 Mei 2026
14:00 – 14:25 Pembukaan
1. Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, M.A. (Ketua Dewan Pengurus, The Habibie Center)
2. Dr. Denis Suarsana (Direktur, Konrad-Adenauer-Stiftung untuk Indonesia & Timor-Leste)
14:25 – 14:45 Pidato Kunci
Dr. Sugeng Hariyono, M.Pd. (Kepala BPSDM, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia)
14:45 – 14:50 Pengantar Sesi Dialog Demokrasi
Moderator: Dr. Afdal Makkuraga Putra, M.Si (Associate Fellow, The Habibie Center)
14:50 – 15:50 Sesi Dialog Demokrasi
Panelis:
1. Dr. Muhammad Qodari (Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Republik Indonesia)
Topik: “Strategi Komunikasi Penyelenggaraan Negara dalam Menghadapi Krisis dan Merawat Kepercayaan Publik”
2. Anggrainy Santi Voulinda, MBA (Jurnalis, Founder Story of Anggy)
Topik: “Media, Disinformasi, dan Persepsi Publik dalam Krisis”
3. Drs. Julian Aldrin Pasha, M.A., Ph.D. (Ketua Institut untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, The Habibie Center)
Topik: “Peran Komunikasi Krisis Penyelenggara Negara untuk Ketahanan Demokrasi”
15:50 – 16:30 Sesi Tanya Jawab dan Penarikan Kesimpulan
Oleh Moderator dan Panelis
16:30 Penutupan
Oleh Moderator