Pemanfaatan media televisi sebagai sarana pendidikan politik adalah elemen yang relatif baru pada program-program KAS di Indonesia. Setelah awal proses reformasi di tahun 1998/99 terjadi, dua perkembangan telah muncul secara signifikan. Perkembangan tersebut adalah : terdapat kebutuhan yang sangat besar terhadap pendidikan demokrasi yang tersedia secara meluas dan terbuka, dan jika saja secara umum, instrumen-instrumen pendidikan politik tradisional tidak tumbuh bersama tuntutan/kebutuhan tersebut, maka media elektronik tidak akan turut melengkapi program-program pendidikan politik, terutama di televisi.
Mempertahankan Demokrasi di Indonesia (2007)
Perkembangan dan dukungan budaya politik adalah salah satu titik berat kegiatan-kegiatan Soegeng Sarjadi Syndicates (SSS). Dengan mempublikasikan sejumlah analisa serta kontribusi-kontribusi keilmuan, diharapkan kesadaran masyarakat akan terbangun dan partisipasi masyarakat sipil dapat dirangsang. Dari kerjasama antara Soegeng Sarjadi Syndicate dan Konrad-Adenauer-Stiftung muncul serangkaian talkshow berjumlah sepuluh, yang setiap bulan, masing-masing pada akhir pekan, disiarkan di QTV. Stasiun televisi QTV, dimana SSS telah banyak membuktikan pengalaman dan keahliannya, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh AGB Nielsen Media Research 2006, telah berhasil mencapai rating tertinggi dibandingkan dengan program serupa lainnya dalam genre ini. Yang menjadi tamu pada program diskusi dan dialog ini tidak hanya politisi dan para ahli, melainkan juga perwakilan dari lembaga-lembaga negara, yang memberikan pendapat mengenai isu-isu dan permasalahan aktual yang tengah terjadi dengan dipandu oleh Bapak Soegeng Sarjadi.